Program Perkuliahan Karyawan
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN WIDYA DARMA SURABAYA

INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN WIDYA DARMA SURABAYA

IKIP WIDYA DARMA
Karier dan Pendidikan

Tanda Pengajar Bahasa Indonesia Siap Melanjutkan Kuliah S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Kenali tanda pengajar Bahasa Indonesia siap kuliah S1 PBSI, dari menyusun pembelajaran yang dekat dengan siswa hingga kesiapan belajar sambil bekerja.

Tanda Pengajar Bahasa Indonesia Siap Melanjutkan Kuliah S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Mengajar Bahasa Indonesia terlihat dekat dengan kegiatan yang kita lakukan setiap hari.

Membaca.

Menulis.

Berbicara.

Menyampaikan pendapat.

Memahami cerita.

Namun, ketika mulai mendampingi siswa secara langsung, seorang pengajar biasanya menyadari bahwa mengajarkan bahasa tidak sesederhana mengetahui cara menggunakan bahasa.

Ada siswa yang bisa berbicara dengan lancar, tetapi kesulitan menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Ada yang mampu membaca sebuah teks, tetapi belum memahami maksud di baliknya.

Ada pula yang langsung kehilangan minat ketika mendengar kata “sastra” karena merasa materi tersebut terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Semakin lama mengajar, semakin banyak pertanyaan yang mungkin muncul.

Bagaimana membuat siswa tertarik membaca?

Bagaimana membantu mereka menulis dengan lebih runtut?

Bagaimana menjelaskan sastra tanpa membuat pembelajaran terasa berat?

Bagaimana menghubungkan materi bahasa dengan pengalaman yang benar-benar dekat dengan kehidupan mereka?

Ketika pertanyaan seperti ini semakin sering muncul, kebutuhan belajarmu mungkin mulai berkembang.

Bagi pengajar Bahasa Indonesia, kesiapan melanjutkan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tidak berarti sudah harus menjadi pengajar yang sempurna.

Salah satu tandanya justru ketika pengalaman mengajar mulai membuatmu ingin memahami bahasa, sastra, dan cara mengajarkannya secara lebih terstruktur.

 

Saat mengajar Bahasa Indonesia mulai menuntut pemahaman yang lebih dalam

Coba ingat kembali ketika meminta siswa menulis sebuah paragraf.

Instruksinya mungkin terlihat sederhana.

“Tuliskan pendapatmu mengenai topik ini.”

Beberapa siswa dapat langsung mulai menulis.

Sementara yang lain masih diam cukup lama.

Ada yang sebenarnya mempunyai banyak ide, tetapi kesulitan menyusunnya menjadi kalimat.

Ada pula yang menulis cukup panjang tetapi gagasannya belum tersusun dengan jelas.

Pada tahap ini, tantanganmu bukan hanya menjelaskan mana kalimat yang benar dan salah.

Kamu mulai perlu memahami bagaimana membantu siswa membangun gagasan.

Bagaimana memulai.

Bagaimana memilih contoh.

Bagaimana menghubungkan satu ide dengan ide berikutnya.

Hal serupa terjadi ketika mengajarkan membaca.

Siswa bisa saja mampu membaca teks dengan lancar.

Namun, ketika ditanya mengenai gagasan utama, maksud penulis, atau hubungan antarbagian teks, jawabannya belum tentu mudah.

Dari pengalaman tersebut, pertanyaanmu dapat berubah.

Bukan hanya:

“Materi apa yang harus saya ajarkan?”

Tetapi:

“Bagaimana membuat siswa benar-benar memahami dan menggunakan bahasa?”

Perubahan pertanyaan seperti ini dapat menjadi salah satu tanda kebutuhan belajar mulai bergerak lebih dalam.

 

Kamu mulai ingin membuat contoh yang lebih dekat dengan siswa

Salah satu tanda kesiapan yang cukup konkret adalah ketika kamu mulai memperhatikan contoh yang digunakan dalam pembelajaran.

Materi bahasa sering terasa abstrak jika hanya dijelaskan melalui definisi.

Misalnya menjelaskan teks argumentasi.

Secara teori, siswa dapat diberikan struktur dan ciri-cirinya.

Namun, pembelajaran bisa terasa lebih dekat ketika contoh diambil dari hal yang mereka kenal.

Misalnya:

pendapat tentang penggunaan ponsel di sekolah;

ulasan film yang sedang mereka tonton;

komentar mengenai lingkungan sekitar;

atau diskusi tentang kebiasaan yang dekat dengan kehidupan remaja.

Hal yang sama dapat dilakukan ketika membahas sastra.

Puisi tidak harus langsung diperkenalkan sebagai sesuatu yang rumit.

Siswa dapat diajak melihat bagaimana pilihan kata digunakan untuk menggambarkan pengalaman, perasaan, atau suasana yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan mereka.

Ketika kamu mulai bertanya:

“Contoh apa yang akan membuat materi ini lebih mudah dipahami siswa?”

artinya perhatianmu mulai bergerak dari sekadar menyampaikan materi menuju merancang pengalaman belajar.

 

Kamu mulai bisa menjelaskan tujuan melanjutkan kuliah

Keinginan kuliah menjadi lebih kuat ketika alasan di baliknya mulai spesifik.

Bukan hanya:

“Saya ingin punya gelar S1.”

Tetapi:

“Saya ingin mendalami cara mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia dengan lebih menarik dan terstruktur.”

Atau:

“Saya ingin mempunyai pemahaman yang lebih kuat tentang bahasa, sastra, dan metode pembelajaran agar pengalaman mengajar saya berkembang.”

Tujuan seperti ini mempunyai hubungan langsung dengan pekerjaan.

Coba lihat kembali pengalamanmu.

Apakah kamu ingin lebih baik dalam membimbing siswa menulis?

Apakah ingin memperkuat kemampuan mengajarkan membaca?

Apakah merasa pembelajaran sastra masih sulit dibuat menarik?

Apakah ingin menyusun materi yang lebih dekat dengan kehidupan siswa?

Tuliskan satu atau dua kemampuan yang paling ingin dikembangkan.

Semakin konkret jawabannya, semakin jelas pula alasan mengapa S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mulai relevan untuk perjalananmu.

 

Kamu mulai melihat bahwa mengajar bahasa bukan hanya menjelaskan aturan

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, aturan tetap penting.

Ada struktur kalimat.

Ada ejaan.

Ada penggunaan kata.

Ada berbagai jenis teks.

Namun, bahasa hidup melalui penggunaan.

Siswa tidak hanya perlu mengetahui aturan.

Mereka juga perlu mampu menggunakannya untuk memahami informasi, menyampaikan gagasan, dan berkomunikasi.

Misalnya ketika belajar menulis.

Menjelaskan struktur teks memang penting.

Tetapi siswa juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba.

Menulis.

Menerima masukan.

Memperbaiki.

Kemudian menulis kembali.

Di sinilah peran pengajar menjadi lebih luas.

Tidak sekadar mengatakan benar atau salah.

Kamu membantu siswa melihat bagaimana sebuah tulisan dapat dibuat lebih jelas.

Jika pengalaman mengajar mulai membuatmu tertarik pada proses seperti ini, itu dapat menjadi tanda bahwa kamu siap mempelajari pendidikan bahasa secara lebih mendalam.

 

Kamu mulai memperhatikan bagaimana siswa membaca

Membaca bukan hanya kemampuan mengucapkan kata-kata di dalam teks.

Ada proses memahami.

Menafsirkan.

Menghubungkan informasi.

Membedakan gagasan penting.

Bahkan mempertanyakan apa yang dibaca.

Sebagai pengajar, kamu mungkin mulai melihat bahwa dua siswa dapat membaca teks yang sama tetapi menangkap makna yang berbeda.

Dari sini muncul pertanyaan:

Bagaimana membantu siswa menemukan gagasan utama?

Bagaimana mengajarkan mereka membaca lebih kritis?

Bagaimana memilih teks yang sesuai dengan kemampuan mereka?

Bagaimana membuat kegiatan membaca tidak terasa seperti tugas semata?

Ketika kamu mulai tertarik mencari jawaban terhadap pertanyaan tersebut, pembelajaran membaca tidak lagi terlihat sebagai aktivitas sederhana.

Kamu mulai melihat adanya proses yang perlu dirancang.

 

Kamu mulai ingin membuat pembelajaran menulis lebih terarah

Menulis sering menjadi salah satu bagian yang membutuhkan pendampingan cukup panjang.

Siswa mungkin memahami topiknya.

Namun, belum tentu mampu menyusun gagasan menjadi tulisan yang runtut.

Karena itu, kamu bisa mulai memperhatikan prosesnya.

Apakah siswa langsung diminta menghasilkan tulisan jadi?

Atau diberi kesempatan untuk merancang gagasan lebih dahulu?

Apakah mereka mendapatkan contoh?

Apakah ada umpan balik?

Apakah mereka diberi kesempatan memperbaiki tulisan?

Pertanyaan seperti ini membawa perhatianmu pada metode pembelajaran.

Kamu tidak hanya melihat hasil akhirnya.

Kamu mulai memikirkan bagaimana siswa sampai pada hasil tersebut.

Jika cara berpikir ini semakin sering muncul, artinya pengalaman mengajar mulai berkembang menjadi kebutuhan untuk memahami proses pendidikan secara lebih terstruktur.

 

Kamu mulai melihat sastra sebagai pengalaman, bukan hanya materi

Bagi sebagian siswa, sastra terasa jauh.

Puisi dianggap sulit.

Cerpen hanya dibaca karena tugas.

Novel dianggap terlalu panjang.

Padahal sastra berbicara tentang manusia.

Perasaan.

Konflik.

Hubungan.

Pilihan hidup.

Masyarakat.

Dan pengalaman.

Ketika seorang pengajar mulai melihat hubungan tersebut, pembelajaran sastra dapat dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda.

Misalnya sebelum menganalisis sebuah cerpen, siswa diajak membicarakan konflik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebelum membahas puisi, siswa dapat diajak memperhatikan bagaimana bahasa digunakan untuk menggambarkan pengalaman atau suasana.

Sastra kemudian tidak hanya menjadi materi untuk diuji.

Ia menjadi ruang untuk membaca kehidupan melalui bahasa.

Jika kamu mulai tertarik membuat pengalaman seperti ini di kelas, kebutuhan belajar mengenai sastra dan metode pengajarannya mungkin semakin kuat.

 

Kamu bersedia mencoba cara mengajar lalu mengevaluasinya

Salah satu tanda kesiapan belajar adalah ketika kamu tidak menganggap satu metode selalu paling benar.

Kamu mencoba.

Melihat respons siswa.

Kemudian mengevaluasi.

Misalnya selama ini pembelajaran menulis dilakukan melalui penjelasan panjang.

Ternyata siswa masih kesulitan.

Kamu kemudian mencoba memberikan contoh konkret.

Atau meminta mereka membuat kerangka terlebih dahulu.

Setelah itu, hasilnya dibandingkan.

Apa yang berubah?

Bagian mana yang membantu?

Apa yang masih sulit?

Cara berpikir seperti ini membuat proses mengajar menjadi proses belajar juga bagi pengajarnya.

Kamu tidak hanya bertanya:

“Apakah materi selesai?”

Tetapi:

“Apakah siswa benar-benar belajar?”

 

Kamu mulai terbuka terhadap umpan balik

Mengajar membuat seseorang terbiasa menjadi pihak yang memberikan masukan.

Namun, pengajar juga membutuhkan masukan.

Mungkin dari rekan.

Atasan.

Dosen.

Atau bahkan dari respons siswa terhadap pembelajaran.

Ada metode yang menurut kita jelas tetapi ternyata masih membingungkan.

Ada contoh yang menurut kita menarik tetapi tidak terlalu dekat dengan pengalaman siswa.

Ada aktivitas yang terlalu banyak memakan waktu.

Umpan balik membantu melihat bagian tersebut.

Kesiapan melanjutkan kuliah dapat terlihat ketika kamu terbuka mengatakan:

“Cara saya mengajar masih bisa dikembangkan.”

Bukan karena pengalaman sebelumnya tidak bernilai.

Justru karena pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk terus belajar.

 

Kamu bersedia kembali belajar bahasa dan sastra dari dasar

Sudah mengajar Bahasa Indonesia tidak berarti semua konsep bahasa dan sastra otomatis sudah dikuasai.

Perkuliahan dapat membawa kamu pada pembahasan yang lebih terstruktur.

Ada bahasa.

Ada sastra.

Ada keterampilan membaca.

Ada keterampilan menulis.

Ada metode pengajaran.

Ada pula proses memahami peserta didik sebagai pembelajar.

Karena itu, kesiapan juga berarti bersedia kembali membaca.

Mencatat.

Berdiskusi.

Menulis.

Menerima koreksi.

Jika ada konsep yang selama ini hanya dipahami secara praktis, kamu dapat mulai mempelajari dasarnya.

Jika sastra menjadi bagian yang belum terlalu kuat, mulai membaca karya yang sederhana.

Jika menulis masih terasa menantang, biasakan kembali membuat ringkasan atau catatan.

Kebiasaan tersebut akan membantu ketika memasuki proses perkuliahan.

 

Kamu mulai membuat catatan refleksi dari pengalaman mengajar

Salah satu latihan sederhana adalah mencatat pengalaman setelah mengajar.

Tidak perlu panjang.

Misalnya:

Materi: menulis teks argumentasi.

Yang berjalan baik: siswa mampu menemukan topik.

Yang masih sulit: sebagian siswa kesulitan menyusun alasan.

Pertanyaan saya: bagaimana membantu siswa mengembangkan argumentasi secara bertahap?

Atau:

Materi: cerpen.

Yang berjalan baik: siswa tertarik pada konflik cerita.

Yang masih sulit: mereka kesulitan menjelaskan unsur sastra dengan kata-kata sendiri.

Pertanyaan saya: bagaimana menghubungkan pengalaman membaca dengan analisis sastra?

Catatan seperti ini membantu pengalaman sehari-hari berubah menjadi pertanyaan belajar.

Kamu mulai mengetahui kemampuan mana yang ingin dikembangkan melalui pendidikan.

 

Kamu memahami hubungan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan pekerjaanmu

Program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Widya Darma Surabaya mempelajari bahasa, sastra, dan metode pengajarannya.

Bagi seseorang yang sudah membimbing membaca, menulis, dan memahami sastra, hubungan bidang tersebut cukup dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Kamu sudah berhadapan dengan siswa.

Kamu sudah melihat kesulitan mereka.

Kamu mungkin sudah mencoba berbagai cara untuk menjelaskan materi.

Perkuliahan memberi ruang untuk memahami pengalaman tersebut dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

Jika sedang mempertimbangkan program ini, kamu dapat mempelajari S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Widya Darma.

Saat membaca informasinya, hubungkan dengan kebutuhanmu.

Misalnya:

“Saya sudah mengajar Bahasa Indonesia, tetapi ingin membuat pembelajaran membaca dan menulis lebih terarah.”

Atau:

“Saya ingin menemukan cara mengajarkan sastra dengan contoh yang lebih dekat dengan siswa.”

Hubungan seperti ini membuat alasan melanjutkan pendidikan menjadi lebih konkret.

 

Kamu mulai menyiapkan cara kuliah sambil tetap bekerja

Setelah tujuan belajar semakin jelas, kesiapan berikutnya adalah persoalan waktu.

Data program mencantumkan jadwal:

Kamis: 18.00–21.00
Jumat: 18.00–21.00
Sabtu: 18.00–21.00

Mulailah dengan melihat aktivitas kerja.

Jam berapa biasanya selesai?

Apakah ada kegiatan mengajar tambahan?

Apakah akhir pekan masih digunakan untuk pekerjaan?

Kapan biasanya menyiapkan materi untuk siswa?

Setelah itu, cari ruang untuk kuliah dan belajar mandiri.

Jangan hanya menghitung waktu kelas.

Ada tugas.

Bacaan.

Latihan menulis.

Diskusi.

Dan waktu untuk mempersiapkan diri sebelum pembelajaran.

Kuliah sambil bekerja akan lebih realistis ketika ritmenya mulai dipikirkan sejak awal.

 

Metode pembelajaran juga perlu dipahami sejak awal

Data program mencantumkan Full Online dan Hybrid Learning.

Pada bagian manfaat juga disebutkan adanya metode Full Online dengan waktu belajar asinkronus.

Sementara itu, data yang sama mencantumkan jadwal kelas malam Kamis, Jumat, dan Sabtu pukul 18.00–21.00.

Karena sumber belum menjelaskan apakah Full Online dan Hybrid Learning merupakan dua pilihan terpisah atau bagaimana jadwal tersebut diterapkan pada masing-masing metode, kamu dapat menjadikan hal ini sebagai salah satu pertanyaan ketika menghubungi pihak kampus.

Bagi pekerja, mengetahui bentuk pembelajaran sejak awal membantu penyusunan jadwal menjadi lebih konkret.

 

Kamu mulai menyiapkan biaya pendidikan

Data program mencantumkan:

Biaya formulir: Rp100.000

Herregistrasi: Rp475.000

Sehingga total biaya awal sebesar Rp575.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp505.000 per bulan.

Selain biaya tersebut, kamu dapat memperhitungkan kebutuhan pribadi.

Internet.

Perangkat.

Buku.

Bahan pembelajaran.

Transportasi jika terdapat kegiatan yang membutuhkan kehadiran langsung.

Dengan membuat gambaran sejak awal, keputusan kuliah menjadi lebih mudah disiapkan.

 

Kamu mulai membangun kebiasaan belajar yang konsisten

Pekerja sering tidak mempunyai waktu kosong dalam jumlah besar.

Karena itu, kebiasaan kecil dapat lebih realistis.

Misalnya:

satu sesi membaca karya sastra;

satu sesi memperkuat materi bahasa;

satu sesi menulis;

dan satu sesi membuat refleksi pembelajaran.

Tidak semuanya harus berlangsung lama.

Yang penting ada ritme yang dapat dipertahankan.

Jika pekerjaan sedang lebih sibuk, waktunya dapat disesuaikan.

Namun, kebiasaan belajarnya tetap berjalan.

 

Empat pertanyaan untuk melihat kesiapanmu

Tidak ada skor tertentu yang menentukan seseorang sudah siap melanjutkan kuliah.

Namun, empat pertanyaan berikut dapat membantu refleksi:

  1. Apakah saya sudah mengetahui mengapa ingin melanjutkan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia?
  2. Apakah saya mulai ingin menyusun pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman siswa?
  3. Apakah saya bersedia kembali membaca, menulis, mencoba metode baru, dan menerima umpan balik?
  4. Apakah saya sudah mulai menyiapkan waktu, biaya, serta pola belajar sambil bekerja?

Tidak semua jawabannya harus langsung sempurna.

Yang penting adalah keinginan belajar sudah mulai diikuti oleh tindakan.

 

Pengalaman mengajar dapat menjadi modal belajar

Ketika masuk kuliah, kamu tidak datang tanpa pengalaman.

Kamu sudah pernah melihat siswa kesulitan menulis.

Pernah mencoba menjelaskan bacaan.

Pernah menghadapi kelas yang kurang tertarik pada sastra.

Mungkin juga sudah menemukan cara tertentu yang membuat siswa lebih mudah memahami materi.

Pengalaman tersebut memberi konteks.

Saat mempelajari metode pengajaran, kamu mempunyai situasi nyata untuk dibandingkan.

Ketika mempelajari bahasa, kamu sudah melihat bagaimana siswa menggunakannya.

Saat mendalami sastra, kamu sudah mengetahui tantangan ketika membawa karya sastra ke dalam pembelajaran.

Pengalaman tidak menggantikan pendidikan.

Namun, pengalaman membuat proses belajar mempunyai titik awal yang nyata.

 

Langkah kesiapan berikutnya bersama IKIP Widya Darma

Bagi pengajar Bahasa Indonesia dan pekerja bidang pendidikan di Surabaya dan sekitarnya yang ingin memperdalam kemampuan mengajar sambil tetap bekerja, salah satu program yang dapat dipelajari adalah Kelas Karyawan IKIP Widya Darma melalui P2K S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Program Studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada data program tercatat memiliki akreditasi Baik Sekali.

Institusi IKIP Widya Darma tercatat berakreditasi Baik.

Lulusan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

Data program mencantumkan metode Full Online dan Hybrid Learning dengan jadwal:

Kamis: 18.00–21.00
Jumat: 18.00–21.00
Sabtu: 18.00–21.00

Untuk pembiayaan, biaya awal tercatat sebesar Rp575.000, terdiri dari formulir Rp100.000 dan herregistrasi Rp475.000.

Tersedia pula simulasi enam kali angsuran sebesar Rp505.000 per bulan.

Kamu dapat mempelajari bidang studinya melalui halaman Program S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Widya Darma.

Informasi mengenai kampus dan program lainnya juga tersedia melalui website IKIP Widya Darma Surabaya.

Sebelum mengambil langkah berikutnya, coba pilih satu materi Bahasa Indonesia yang menurutmu paling sulit dibuat menarik.

Kemudian tuliskan:

Apa materinya?

Di bagian mana siswa biasanya kesulitan?

Contoh apa yang selama ini digunakan?

Contoh apa yang mungkin lebih dekat dengan kehidupan mereka?

Apa yang masih ingin kamu pelajari sebagai pengajar?

Latihan sederhana tersebut dapat membantu melihat kebutuhan belajarmu secara lebih konkret.

Jika pengalaman membimbing membaca, menulis, dan memahami sastra mulai membuatmu ingin menyusun pembelajaran dengan cara yang lebih terarah, kamu dapat mempelajari kembali S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas Karyawan IKIP Widya Darma sambil mencatat informasi program yang masih ingin diketahui.

 

Tanda siap melanjutkan kuliah tidak berarti kamu sudah menguasai seluruh materi bahasa, sastra, dan metode pengajaran.

Bagi pengajar Bahasa Indonesia, kesiapan justru dapat muncul ketika pengalaman mengajar mulai menghasilkan pertanyaan yang lebih dalam, kamu ingin membuat pembelajaran semakin dekat dengan siswa, dan kamu bersedia kembali menjadi pembelajar.

Pengalamanmu di depan siswa sudah memberikan banyak pelajaran.

S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dapat menjadi langkah berikutnya untuk memahami bagaimana bahasa dan sastra dapat diajarkan dengan lebih terarah dan bermakna.